Sunday, June 17, 2012

Sejarah Pestisida


Penggunaan pestisida kimia pertama kali diketahui sekitar 4.500 tahun yang lalu (2.500 SM) yaitu pemanfaatan asap sulfur untuk mengendalikan tungau di Sumeria. Pada tahun 1874 Othmar Zeidler adalah orang yang pertama kali mensintesis DDT (Dichloro Diphenyl Trichloroethane), tetapi fungsinya sebagai insektisida baru ditemukan oleh ahli kimia Swiss, Paul Hermann Muller pada tahun 1939 yang dengan penemuannya ini dia dianugrahi hadiah nobel dalam bidang Physiology atau Medicine pada tahun 1948 (NobelPrize.org). Pada tahun 1940an mulai dilakukan produksi pestisida sintetik dalam jumlah besar dan diaplikasikan secara luas (Daly et al., 1998). Beberapa literatur  menyebutkan bahwa tahun 1940an dan 1950an disebut sebagai “era pestisida” (Murphy, 2005). Penggunaan pestisida terus meningkat lebih dari 50 kali lipat semenjak tahun 1950, dan sekarang sekitar 2,5 juta ton pestisida ini digunakan setiap tahunnya (Miller, 2002). Dari seluruh pestisida yang diproduksi di seluruh dunia saat ini, 75% digunakan di negara-negara berkembang (Miller, 2004).
Kerjasama antara militer dan industri agro kimia pada waktu Perang dunia telah membuat
perusahaan-perusahaan tersebut memproduksi beberapa jenis pestisida yang memang difungsikan untuk kepentingan perang.
Pada waktu Perang Dunia I, Jerman memproduksi nitrat yang digunakan sebagai bahan peledak. Selain itu diproduksi pula organophosphate yang digunakan sebagai gas beracun. Sejarah ini terulang pula pada waktu meletus Perang Dunia II, di mana DDT digunakan untuk memberantas lintah dan nyamuk yang sangat mempengaruhi kehidupantentara di medan perang. Selain itu herbisida 2-4 D dan 2,4,5-T digunakan AS di Vietnam untuk membasmi tanaman.
Setelah masa penjajahan, kondisi Negara-negara dunia ke tiga semakin terpuruk, karena sumber kekayaan alam yang berlimpah lebih banyak digunakan untuk mencukupi kebutuhan Negara utara, seperti gula, the, kopi, dll. Bahaya kekurangan pangan, kelaparan dan wabah penyakit mulai melanda Negara dunia ke tiga tsb. Pada saat itu oleh Negara utara mulai diperkenalkan pertanian modern yang bertujuan untuk mencukupi kebutuhan pangan dengan pemberian paket tehnologi (pupuk,benih pestisida). Dari sinilah sejarah pestisida berubah, dari kepentingan perang menjadi untuk pemeliharaan tanaman.

Berakhirnya masa kolonial bukan berarti berakhirnya kekuasaan Negara utara, tetapi mereka menggunakan cara baru untuk kembali menguasai Negara dunia ke tiga. Dengan kebijakan Revolusi Hijau, Negara berkembang dipengaruhi untuk menganut system tsb dengan pemberian paket tehnologi, melalui perusahaan multi nasional yang bekerjasama dengan elite nasional, perguruan tinggi dan peneliti. Dengan cara ini perusahaan pestisida berkembang menjadi industri raksasa yang menguasai dunia. Fakta menunjukkan bahwa industri pestisida pada PD sampai saat ini berkembang pesat menjadi kerajaan pestisida, diantaranya:

1.      Di Inggris, beberapa perusahaan Inggris yang berproduksi untuk mensuplay PD 1 (1920), bergabung dalam ICI (Imperial Chemical Industries), pada tahun 1993 mengembangkan usahanya dalam industri farmasi, agrokimia dan benih dengan nama ZENECA. Tahun 1999 Zeneca merger dengan ASTRA (perusahaan farmasi Swedia) membentuk ASTRAZENECA. Dan pada tahun 2000 industri ini merger dengan NORVATIS (gabungan Ciba dan Sandos di Swiss), membentuk SYGENTA.
2.      Di Jerman, Bayer yang saat ini termasuk 6 industri pestisida terbesar di dunia, dulunya berasal dari BASF, Bayer dan Hoechst yang merger dengan Rhone Poulenc (Perancis) dan AVENTIS pada tahun 2002.

Pertanyaannya adalah mengapa perusahaan pestisida tsb mampu menguasai pasar Negara lain. Hal ini tidak terlepas dari adanya politik yang dilakukan oleh perusahaan multi nasional tersebut dan telah menjadi scenario global. Proses globalisasi telah dijadikan alat diberlakukannya pasar bebas, dengan pemberian pinjaman bagi Negara miskin dengan syarat tertentu. Strategi ini dilakukan dengan cara mempengaruhi elite nasional, perguruan tinggi dan peneliti, serta konsumen seperti:
1.      IRRI disupport oleh Yayasan Rockefeller dan Ford Foundation mengadakan riset tentang RH yang sebenarnya merupakan politik AS untuk membendung ajaran komunis.
2.      Pinjaman/Hutang jangka panjang oleh Bank Dunia, IMF, ADB untuk pembelian paket tehnologi RH yang diproduksi industri tsb (perkembangannya tidak hanya pestisida yang diproduksi tetapi juga benih, pupuk, alat-alat pertanian).
3.      Promosi di media elektronik dan cetak : eksploitasi perempuan, hadiah naik haji, mobil, dll
4.      Strategi ini membuat petani semakin tergantung pada pestisida kimia dan semakin lama dosis yang digunakan semakin bertambah karena hama semakin resisten. Kekebalan hama ini selain meningkatkan dosis penggunaan juga membuat petani mencampur beberapa jenis pestisida untuk kepentingan lain di usaha taninya, akibatnya biaya produksi melambung tidak sebanding dengan harga jual produk pertanian.

Tercatat di tahun 2000, ada 6 perusahaan kimia pertanian besar (Sygenta, Monsanto, Dupont, Aventis, BASF dan Down Chemical Co) mengeruk keuntungan lebih dari US $ 20.422 juta dari penjualan bahan kimia pertanian, dan US $ 4.836 juta dari benih dan pangan transgenik. Mereka menguasai hampir 80 % perdagangan pangan dunia.
Perusahaan ini bahkan telah menancapkan bisnisnya secara kuat di Indonesia,memberi bukti bahwa Indonesia merupakan pasar besar perdagangan pestisida.

Beberapa dampak negatif dari penggunaan pestisida kimia pada lahan pertanian yang telah diketahui, diantaranya: mengakibatkan resistensi hama sasaran (Endo et al. 1988; Oka 1995), gejala resurjensi hama (Armes et al., 1995), terbunuhnya musuh alami (Tengkano et al. 1992), meningkatnya residu pada hasil, mencemari lingkungan, gangguan kesehatan bagi pengguna (Oka 1995; Schumutterer, 1995), bahkan beberapa pestisida disinyalir memiliki kontribusi pada fenomena pemanasan global (global warming) dan penipisan lapisan ozon (Reynolds, 1997).
Penelitian terbaru mengenai bahaya pestisida terhadap keselamatan nyawa dan kesehatan manusia sangat mencengangkan. WHO (World Health Organization) dan Program Lingkungan PBB memperkirakan ada 3 juta orang yang bekerja pada sektor pertanian di negara-negara berkembang terkena racun pestisida dan sekitar 18.000 orang diantaranya meninggal setiap tahunnya (Miller, 2004). Di Cina diperkirakan setiap tahunnya ada setengah juta orang keracunan pestisida dan 500 orang diantaranya meninggal (Lawrence, 2007). Beberapa pestisida bersifat karsinogenik yang dapat memicu terjadinya kanker. Berdasarkan penelitian terbaru dalam Environmental Health Perspctive menemukan adanya kaitan kuat antara pencemaran DDT pada masa muda dengan menderita kanker payudara pada masa tuanya (Barbara and Mary, 2007). Menurut NRDC (Natural Resources Defense Council) tahun 1998, hasil penelitian menunjukkan bahwa kebanyakan penderita kanker otak, leukemia dan cacat pada anak-anak awalnya disebabkan tercemar pestisida kimia. Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Harvard School of Public Health di Boston, menemukan bahwa resiko terkena penyakit parkinson meningkat sampai 70% pada orang yang terekspose pestisida meski dalam konsentrasi sangat rendah (Ascherio et al., 2006).

Tuesday, June 12, 2012

Tanaman Obat Indonesia 1 (Adas)


 
Adas
(Foeniculum vulgare Mill).
Sinonim :
= E officinale, All. = Anethum foeniculum, Linn.
Familia :
Apiaccae (Umbelliferae)

Uraian :
Adas merupakan satu dari sernbilan tumbuhan obat yang dianggap berrnukjizat di Anglo-Saxon. Di Indonesia telah dibudidayakan dan kadang sebagai tanarnan bumbu atau tanaman obat. Turnbuhan ini dapat hidup dari dataran rendah sampai ketinggian 1.800 m di atas permukaan laut, namun akan tumbuh lebih baik pada dataran tinggi. Asalnya dari Eropa Selatan dan Asia, dan karena manfaatnya kemudian banyak ditanam di Indonesia, India, Argentina, Eropa, dan Jepang. Terna berumur panjang, tinggi 50 cm - 2 m, tumbuh merumpun. Satu rumpun biasanya terdiri dari 3 - 5 batang. Batang hijau kebiru- biruan, beralur, beruas, berlubang, bila memar baunya wangi. Letak daun berseling, majemuk menyirip ganda dua dengan sirip-sirip yang sempit, bentuk jarum, ujung dan pangkal runcing, tepi rata, berseludang warna putih, seludang berselaput dengan bagian atasnya berbentuk topi. Perbungaan tersusun sebagai bunga payung majemuk dengan 6 - 40 gagang bunga, panjang ibu gagang bunga 5 - 1 0 em, panj' ang gagang bunga 2 - 5 mm, mahkota berwarna kuning, keluar dari ujung batang. Buah lonjong, berusuk, panjang 6 - 10 mm, lebar 3 - 4 mm, masih muda hijau setelah tua cokelat agak hijau atau cokelat agak kuning sampai sepenuhnya cokelat. Namun, warna buahnya ini berbeda-beda tergantung negara asalnya. Buah masak mempunyai bau khas aromatik, bila dicicipi rasanya relatif seperti kamfer. Adas menghasilkan minyak adas, yang merupakan basil sulingan serbuk buah adas yang masak dan kering. Ada dua macam minyak adas, manis dan pahit. Keduanya, digunakan dalam industri obat-obatan. Adas juga dipakai untuk bumbu, atau digunakan sebagai bahan yang memperbaiki rasa (corrigentia saporis) dan mengharumkan ramuan obat. Biasanya adas digunakan bersama-sama dengan kulit batang pulosari. Daunnya bisa dimakan sebagai sayuran. Perbanyakan dengan biji atau dengan memisahkan anak tanaman.

Nama Lokal :
Hades (Sunda), adas, adas londa, adas landi (Jawa),; Adhas (Madura), adas (Bali), wala wunga (Sumba).; Das pedas (Aceh), adas, adas pedas (melayu).; Adeh, manih (Minangkabau). paapang, paampas (Menado).; Popoas (Alfuru), denggu-denggu (Gorontalo), ; Papaato (Buol), porotomo (Baree). kumpasi (Sangir Talaud).; Adasa, rempasu (Makasar), adase (Bugis).; Hsiao hui (China), phong karee, mellet karee (Thailand),; Jintan Manis (Malaysia). barisaunf, madhurika (Ind./Pak.).; Fennel, commaon fennel, sweet fennel, fenkel, spigel (I).;



Haji Sukri, Nominasi Liputan 6 SCTV Award (1)


Walikota Solok Irzal Ilyas bersama Haji Sukri saat panen jagung.
Menemukan Jagung Hibrida Unggul


Belajar dari Alam
Meski belum berhasil sebagai pemenang, Nominator Liputan 6 SCTV Award bidang inovasi, Haji Sukri tetap dianggap figur yang sangat inspiratif. Pria kelahiran Saniang Baka 15 April 1949 yang hanya tamatan kelas 4 sekolah dasar ini mampu menemukan jagung hibrida unggul. Kini sudah 6 varietas yang dia temukan. Jagung unggul itu sudah diproduksi secara massal dan dipasarkan secara nasional.

Parasaian hidup mem­buat Haji Sukri tahun 1965 nekat merantau ke Jakarta dengan harapan bisa mendapat pekerjaan yang lebih layak daripada sekadar menjadi petani di kampung. Saat itu umurnya baru 16 tahun. Di ibukota dia berjual pakaian di kaki lima. Ternyata tak mudah hidup di Jakarta. Kesulitan demi ke­su­litan dia alami sehingga Haji Sukri memutuskan pindah ke Ka­bu­paten Preung Sewu, Lampung tahun 1968. Di sana di menjual berbagai macam jenis pakaian.

Petani cengkeh di Lampung saat itu sedang berjaya. Mereka kaya raya dari hasil cengkehnya. Sukri dan pedagang lainnya sering merasa dilecehkan dengan ting­kah polah mereka. Para petani cengkeh itu seringkali saat mem­beli ke pasar menunjuk barang yang dibelinya dengan kaki.

Sejak saat itulah Sukri ter­tan­tang untuk pulang kampung, kembali menjadi petani. “Di Lam­pung petani bisa jaya, di Solok juga pasti bisa,” gumam Haji Sukri dalam hati. Namun Sukri masih tetap ingin bertahan. Dia masih punya optimisme bisa sukses di perantauan. Tahun 1969 Sukri memutuskan kembali ke Jakarta. Di sana dia kembali menjadi PKL tapi tak berlangsung lama.

Tahun 1969 Sukri pulang kampung karena ibunya me­ninggal. Dia pulang tanpa mem­bawa keberhasilan. Sejak saat itulah dia memutuskan menjadi petani. Dia ingat betul petani di Preung Sewu Lampung Selatan yang bisa sukses dan kaya raya hanya dengan bertani.

Mulai lah Sukri kembali men­jadi petani, mulai lah dia me­nanam bawang dan cengkeh, sam­bil menanam jagung di bedeng-bedeng ladangnya. Sukri memang punya hobi ke sawah dan ladang. Hari-harinya dihabiskan di sana. Tak lupa di membawa rantang berisi makanan untuk bekal se­hingga tak  perlu pulang ke rumah jelang siang.

Sukri memang hobi me­nga­winkan tanaman. Saat bertanam cengkeh dia sudah mencoba me­ngawinkan jambu keeling dengan cengkeh. Menurutnya karena varietasnya sama, otomatis bisa dikawinkan. Hasilnya memang tak sempurna tetapi Sukri tak putus asa.

Sifatnya yang selalu penasaran dan sangat mencintai pertanian membuatnya selalu melakukan uji coba terhadap tanaman. Pada tahu 1982, Sukri memfokuskan diri pada pengembangan cabe, jagung dan tomat. Namun dia lebih fokus pada jagung karena menurutnya lebih prospektif. Bagi Sukri men­jadi petani tidak sekadar me­nerima benih yang dijual di pa­saran. Dia menginginkan benih unggul yang punya produktivitas tinggi. Menurutnya, untuk me­majukan pertanian, langkah awal yang harus dilakukan adalah menyediakan bibit unggul.

Namun Sukri tak punya pe­nge­tahuan yang cukup bagaimana cara mendapatkan benih unggul. Awalnya dia hanya melakukan cara-cara tradisional. Dia me­na­nam jagung di sela-sela tanaman cabe. Setiap panen, diambilnya lima tongkol yang dianggap paling baik hasilnya dan digantungnya di sudut dapur sampai kering. Nanti benih jagung itu ditanam lagi dan seterusnya sampai benar-benar murni. Benih jagung yang murni ini kemudian dikawinkan sesa­manya sehingga dia mendapatkan jagung hibrida.

Sukri tak sadar, apa yang dia lakukan itu ternyata merupakan bagian dari kegiatan pemuliaan tanaman. Untuk menyem­pur­na­kan metode yang dia lakukan, Haji Sukri mencari referensi dari ber­bagai buku. “Waktu itu saya dapat buku yang tidak utuh, hanya 10 halaman yang berisi tentang pe­mu­liaan tanaman. Buku itu ba­nyak membantu saya. Sekarang bu­kunya hilang entah kemana,” ujarnya di ruang kerjanya, Rabu lalu (23/5).

Kerja keras yang dilakukan Haji Sukri sejak tahun 1982 itu pun membuahkan hasil. Setelah melalui berbagai tes, benih unggul yang dihasilkan Haji Sukri lolos murni dan dilepas varietasnya oleh Kementerian Pertanian tahun 2000. Sejak saat itu di bawah bendera PT Citra Nusantara Man­diri, jagung hibrida temuannya diproduksi secara massal untuk memenuhi kebutuhan PT Pertani.

Hingga saat ini Haji Sukri sudah menemukan 6 varietas jagung unggul. Tiga varietas yang terakhir yakni N37, NT105 dan NT108 baru dilepas tahun ini. “Varietas baru itu harus memiliki keunggulan dibanding varietas sebelumnya. Jadi harus ada ino­vasi secara terus menerus, tidak boleh berhenti,” ujarnya.

Menurut Haji Sukri varietas lama bisa dirombak lagi dan di­kawinkan dengan varietas lain. Yang penting dari setiap per­ka­wi­nan tanaman yang kita lakukan ada nilai tambah. Karena itu, harus di­kenali keunggulan dan kele­ma­han dari calon yang akan dika­win­kan.

“Misalnya begini, anak kita mau kita kawinkan. Dari 10 indi­kator, dia unggulnya tujuh. Kita harus tahu apa yang tujuh ke­ung­gulannya itu dan tiga kele­ma­han­nya. Dari sana baru kita cari calon mantu yang punya keunggulan pada tiga kelemahan anak tadi,”  ujarnya.

Haji Sukri menjelaskan jagung yang sudah murni bisa kembali menyimpang setelah 2 sampai 3 tahun dibudidayakan. Namun tidak setiap penyimpangan itu jelek. Penyimpangan itu juga bisa dikendalikan dengan mudah.

“Jagung yang menyimpang itu kita bungkus dengan rapat. Di dalamnya kan ada unsur rambut dan malai. Rambut be­tina dan malai jantan. Setelah ada serbuk pecah, jangan kita tunggu pecah sendiri semuanya tetapi kita yang pecahkan. Da­lam dua kali kawin sudah bisa kembali normal,” jelasnya.

Source : http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=29010



Monday, June 11, 2012

Kalibrasi

Kalibrasi adalah suatu upaya untuk mengkondisikan segala alat ukur yang disetarakan dengan standart, yang ditunjukan dengan sertifikasi, hal ini penting untuk ISO sebuah perusahaan.

Pengertian kalibrasi menurut ISO adalah seperangkat operasi dalam kondisi tertentu yang bertujuan untuk menentukan hubungan antara nilai-nilai yang ditunjukkan oleh alat ukur atau sistem pengukuran atau nilai yang ditunjukkan material ukur dengan nilai measurand yang telah diketahui.
Sedangkan pengertian kalibrasi menurut ISO/IEC Guide 17025:2005 dan Vocabulary of International Metrology (VIM) adalah serangkaian kegiatan yang membentuk hubungan antara nilai yang ditunjukkan oleh instrumen ukur atau sistem pengukuran, atau nilai yang diwakili oleh bahan ukur, dengan nilai-nilai yang sudah diketahui yang berkaitan dari besaran yang diukur dalam kondisi tertentu. Dengan kata lain, kalibrasi adalah kegiatan untuk menentukan kebenaran konvensional nilai penunjukkan alat ukur dan bahan ukur dengan cara membandingkan terhadap standar ukur yang mamputelusur (traceable) ke standar nasional untuk satuan ukuran dan/atau internasional.
Tujuan kalibrasi adalah untuk mencapai ketertelusuran pengukuran. Hasil pengukuran dapat dikaitkan/ditelusur sampai ke standar yang lebih tinggi/teliti (standar primer nasional dan / internasional), melalui rangkaian perbandingan yang tak terputus.

Irigasi tetes (Drip Irrigation)


Irigasi tetes (Drip Irrigation) merupakan salah satu teknologi mutakhir dalam bidang irigasi yang telah berkembang hampir di seluruh dunia. Teknologi ini mula pertama diperkenalkan di Israel, dan kemudian menyebar hampir ke seluruh pelosok penjuru dunia. Pada hakekatnya teknologi ini sangat cocok diterapkan padakondisi lahan kering berpasir, air yang sangat terbatas, iklim yang kering dan komoditas yang diusahakan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi (Bucks et al.,1982).

A. Konsep Irigasi Tetes
Tickle irigation disebut jugadrip irigation yang lebih dikenal dengan irigasi tetes. Perbedaan sistem aplikasi dengan irigasi yang lainnya adalah bahwa air diberikan pada suatu titik tertentu dengan jumlah yang sangat terbatas. Pemberian air irigasi pada irigasi tetes diberikan secara langsung di sekitar daerah perakaran, dengan pola pembasahan tanah sangat terbatas pada luasan dan kedalaman tanah.
Perbedaan utama antara sistem irigasi tetes dengan sistem irigasi yang lain adalah bahwa kesetimbangan antara Etc dan pemberian air dipertahankan berkisar antara 24 sampai 72 jam. Pengoperasian sistaem irigasi dalam waktu yang singkat terutama berkaitan dengan pemberian air yang disesuaikan dengan kebutuhan tanaman untuk pengukuran status lengas tanah. Untuk memonitor status lengas tanah dapat digunakan tensiometer yang dipasang pada berbagai kedalaman.

B. Keuntungan
Sebagaimana sistem irigasi yang lain, irigasi tetes ini juga memiliki kelemahan dan kelebihan. Keunggulan utama dari sistem irigasi tetes adalah air yang diberikan mendekati kesetimbangan dengan kebutuhan air tanaman, meminimumkan air larian, dan perkolasi. Luas pembasahan yang sempit dapat meminimumkan pertumbuhan gulma dan menghemat air. Adanya fakta yang menunjukkan bahwa pada umumnya sistem irigasi tetes menghasilkan rasio hasil terhadap luas yang lebih tinggi demikian juga hasil terhadap volume airnya dari pada sistem irigasi permukaan atau sprinkle.
Ada banyak alasan yang menunjukkan tingkat efisiensi penggunaan yang tinggi dari sistem ini. Satu, kontinynya pemberian air di sekitar daerah perakaran menyebabkan kandungan lengas tanah pada daerah perakaran tinggi. Kekurangan air yang menyebabkan tanaman stress bisa diminimalisir. Dua, terbatasnya permukaan tanah yang terkena air dapat mengurangi pertumbuhan gulma, sehingga kompetisi tanaman inti untuk memperoleh air dan unsur hara rendah.

C. Jaringan Irigasi
Bagian dari sistem irigasi tetes dapat dibagi ke dalam pipa (jaringan) utama (mainlane), pipa sekunder (submine), dan pipa lateral (lateral). Mainlane memiliki pompa, chemical injector untuk pemberian pupuk. Filter utama digunakan untuk menghilangkan larutan penyebab tersumbatnya emitter.


D. Emitters
Emitter adalah alat untuk menyalurkan air dari saluran distribusi ke tanah. Dua bagian utama emitter adalah point source dan line source.

E. Emitter Uniformity
Elemen kunci dari sistem irigasi tetes adalah bahwa terpenuhinya kebutuhan air tanaman dengan debit emitter. Untuk mengetahui terpenuhinya kebutuhan air tanaman secara mudah dapat diketahui dari keseragaman debit. Untuk mengkuatitatifkan keseragaman yaitu dengan kesragaman emisi,
Ue = 100[1.0 – ( )Cv]qavg^q min
Dimana: Ue = keseragaman emisi (%)
N = banyaknya emitter per tanaman
Sistem irigasi tetes cepat dan mudah dirakit. Komponennya utama adalah pipa paralon dengan dua ukuran yang berbeda. Yang berdiameter lebih besar digunakan sebagai pipa utama, sementara yang lebih kecil digunakan sebagai pipa tetes. Pipa utama berfungsi sebagai pembagi air ke setiap pipa tetes. Pipa tetes diberi lubang-lubang untuk meneteskan air ke setiap tanaman dengan jarak sesuai jarak antar tanaman. Untuk mengalirkan air dari sumbernya diperlukan pompa air, juga dilengkapi kran dan saringan air ke pipa utama, tidak lupa pipa konektor untuk sambungan.

Sunday, June 10, 2012

Irigasi (3)

Pengalaman Penerapan Jenis Irigasi Khusus

Irigasi Pasang-Surut di Sumatera, Kalimantan, dan Papua

Dengan memanfaatkan pasang-surut air di wilayah Sumatera, Kalimantan, dan Papua dikenal apa yang dinamakan Irigasi Pasang-Surat (Tidal Irrigation). Teknologi yang diterapkan di sini adalah: pemanfaatan lahan pertanian di dataran rendah dan daerah rawa-rawa, di mana air diperoleh dari sungai pasang-surut di mana pada waktu pasang air dimanfaatkan. Di sini dalam dua minggu diperoleh 4 sampai 5 waktu pada air pasang. Teknologi ini telah dikenal sejak Abad XIX. Pada waktu itu, pendatang di Pulau Sumatera memanfaatkan rawa sebagai kebun kelapa. Di Indonesia terdapat 5,6 juta Ha dari 34 Ha yang ada cocok untuk dikembangkan. Hal ini bisa dihubungkan dengan pengalaman Jepang di Wilayah Sungai Chikugo untuk wilayah Kyushu, di mana di sana dikenal dengan sistem irigasi Ao-Shunsui yang mirip.

Irigasi Tanah Kering atau Irigasi Tetes

Di lahan kering, air sangat langka dan pemanfaatannya harus efisien. Jumlah air irigasi yang diberikan ditetapkan berdasarkan kebutuhan tanaman, kemampuan tanah memegang air, serta sarana irigasi yang tersedia.
Ada beberapa sistem irigasi untuk tanah kering, yaitu:
  • (1) irigasi tetes (drip irrigation),
  • (2) irigasi curah (sprinkler irrigation),
  • (3) irigasi saluran terbuka (open ditch irrigation), dan
  • (4) irigasi bawah permukaan (subsurface irrigation).
Untuk penggunaan air yang efisien, irigasi tetes [3] merupakan salah satu alternatif. Misal sistem irigasi tetes adalah pada tanaman cabai.
Ketersediaan sumber air irigasi sangat penting. Salah satu upaya mencari potensi sumber air irigasi adalah dengan melakukan deteksi air bawah permukaan (groundwater) melalui pemetaan karakteristik air bawah tanah. Cara ini dapat memberikan informasi mengenai sebaran, volume dan kedalaman sumber air untuk mengembangkan irigasi suplemen.
Deteksi air bawah permukaan dapat dilakukan dengan menggunakan Terameter.

Pengalaman Sistem Irigasi Pertanian di Niigata Jepang

Sistem irigasi pertanian milik Mr. Nobutoshi Ikezu di Niigata Prefecture. Di sini terlihat adanya manajemen persediaan air yang cukup pada pengelolaan pertaniannya. Sekitar 3 km dari tempat tersebut tedapat sungai besar yang debit airnya cukup dan tidak berlebih. Air sungai dinaikan ke tempat penampungan air menggunakan pompa berkekuatan besar. Air dari tempat penampungan dialirkan menggunakan pipa-pipa air bawah tanah berdiameter 30 cm ke pertanian di sekitarnya. Pada setiap pemilik sawah terdapat tempat pembukaan air irigasi tersebut. Pembagian air ini bergilir berselang sehari, yang berarti sehari keluar, sehari tutup. Penggunaannya sesuai dengan kebutuhan sawah setempat yang dapat diatur menggunakan tuas yang dapat dibuka tutup secara manual. Dari pintu pengeluaran air tersebut dialirkan ke sawahnya melalui pipa yang berada di bawah permukaan sawahnya. Kalau di tanah air kita pada umumnya air dialirkan melalui permukaan sawah. Sedangkan untuk mengatur ketinggian air dilakukan dengan cara menaikan dan menurunkan penutup pintu pembuangan air secara manual. Pembuangan air dari sawah masuk saluran irigasi yang terbuat dari beton sehingga air dengan mudah kembali ke sungai kecil, tanpa merembes terbuang ke bawah tanah. Pencegahan perembesan air dilakukan dengan sangat efisien.

Pengalaman Irigasi Perkebunan Kelapa Sawit

Ketersediaan air merupakan salah satu faktor pembatas utama bagi produksi kelapa sawit. Kekeringan menyebabkan penurunan laju fotosintesis dan distribusi asimilat terganggu, berdampak negatif pada pertumbuhan tanaman baik fase vegetatif maupun fase generatif. Pada fase vegetatif kekeringan pada tanaman kelapa sawit ditandai oleh kondisi daun tombak tidak membuka dan terhambatnya pertumbuhan pelepah. Pada keadaan yang lebih parah kekurangan air menyebabkan kerusakan jaringan tanaman yang dicerminkan oleh daun pucuk dan pelepah yang mudah patah. Pada fase generatif kekeringan menyebabkan terjadinya penurunan produksi tanaman akibat terhambatnya pembentukan bunga, meningkatnya jumlah bunga jantan, pembuahan terganggu, gugur buah muda, bentuk buah kecil dan rendemen minyak buah rendah.
Manajemen irigasi perkebunan kelapa sawit, yaitu: membuat bak pembagi, pembangunan alat pengukur debit manual di jalur sungai, membuat jaringan irigasi di lapang untuk meningkatkan daerah layanan irigasi suplementer bagi tanaman kelapa sawit seluas kurang lebih 1 ha, percobaan lapang untuk mengkaji pengaruh irigasi suplementer (volume dan waktu pemberian) terhadap pertumbuhan vegetatif kelapa sawit dan dampak peningkatan aliran dasar (base flow) terhadap performa kelapa sawit pada musim kemarau, identifikasi lokasi pengembangan dan membuat untuk 4 buah Dam Parit dan upscalling pengembangan dam parit di daerah aliran sungai.

Irigasi (2)

Jenis Irigasi

Irigasi Permukaan

Irigasi Permukaan merupakan sistem irigasi yang menyadap air langsung di sungai melalui bangunan bendung maupun melalui bangunan pengambilan bebas (free intake) kemudian air irigasi dialirkan secara gravitasi melalui saluran sampai ke lahan pertanian. Di sini dikenal saluran primer, sekunder, dan tersier. Pengaturan air ini dilakukan dengan pintu air. Prosesnya adalah gravitasi, tanah yang tinggi akan mendapat air lebih dulu.

Irigasi Lokal

Sistem ini air distribusikan dengan cara pipanisasi. Di sini juga berlaku gravitasi, di mana lahan yang tinggi mendapat air lebih dahulu. Namun air yang disebar hanya terbatas sekali atau secara lokal.

Irigasi dengan Penyemprotan

Penyemprotan biasanya dipakai penyemprot air atau sprinkle. Air yang disemprot akan seperti kabut, sehingga tanaman mendapat air dari atas, daun akan basah lebih dahulu, kemudian menetes ke akar.

Irigasi Tradisional dengan Ember

Di sini diperlukan tenaga kerja secara perorangan yang banyak sekali. Di samping itu juga pemborosan tenaga kerja yang harus menenteng ember.

Irigasi Pompa Air

Air diambil dari sumur dalam dan dinaikkan melalui pompa air, kemudian dialirkan dengan berbagai cara, misalnya dengan pipa atau saluran. Pada musim kemarau irigasi ini dapat terus mengairi sawah.

Irigasi Tanah Kering dengan Terasisasi

Di Afrika yang kering dipakai sustem ini, terasisasi dipakai untuk distribusi air.

Irigasi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.

Irigasi merupakan upaya yang dilakukan manusia untuk mengairi lahan pertanian. Dalam dunia modern, saat ini sudah banyak model irigasi yang dapat dilakukan manusia. Pada zaman dahulu, jika persediaan air melimpah karena tempat yang dekat dengan sungai atau sumber mata air, maka irigasi dilakukan dengan mengalirkan air tersebut ke lahan pertanian. Namun demikian, irigasi juga biasa dilakukan dengan membawa air dengan menggunakan wadah kemudian menuangkan pada tanaman satu per satu. Untuk irigasi dengan model seperti ini di Indonesia biasa disebut menyiram.
Sebagaimana telah diungkapkan, dalam dunia modern ini sudah banyak cara yang dapat dilakukan untuk melakukan irigasi dan ini sudah berlangsung sejak Mesir Kuno.

Sejarah Irigasi di Indonesia

Irigasi Mesir Kuno dan Tradisional Nusantara

Sejak Mesir Kuno telah dikenal dengan memanfaatkan Sungai Nil. Di Indonesia, irigasi tradisional telah juga berlangsung sejak nenek moyang kita. Hal ini dapat dilihat juga cara bercocok tanam pada masa kerajaan-kerajaan yang ada di Indonesia. Dengan membendung kali secara bergantian untuk dialirkan ke sawah. Cara lain adalah mencari sumber air pegunungan dan dialirkan dengan bambu yang bersambung. Ada juga dengan membawa dengan ember yang terbuat dari daun pinang atau menimba dari kali yang dilemparkan ke sawah dengan ember daun pinang juga.

Sistem Irigasi Zaman Hindia Belanda

Sistem irigasi adalah salah satu upaya Belanda dalam melaksanakan Tanam Paksa (Cultuurstelsel) pada tahun 1830. Pemerintah Hindia Belanda dalam Tanam Paksa tersebut mengupayakan agar semua lahan yang dicetak untuk persawahan maupun perkebunan harus menghasilkan panen yang optimal dalam mengeksplotasi tanah jajahannya.
Sistem irigasi yang dulu telah mengenal saluran primer, sekunder, ataupun tersier. Tetapi sumber air belum memakai sistem Waduk Serbaguna seperti TVA di Amerika Serikat. Air dalam irigasi lama disalurkan dari sumber kali yang disusun dalam sistem irigasi terpadu, untuk memenuhi pengairan persawahan, di mana para petani diharuskan membayar uang iuran sewa pemakaian air untuk sawahnya.

Waduk Jatiluhur 1955 di Jawa Barat dan Pengalaman TVA 1933 di Amerika Serikat

Tennessee Valley Authority (TVA) [1] yang diprakasai oleh Presiden AS Franklin D. Roosevelt pada tahun 1933 merupakan salah satu Waduk Serba Guna yang pertama dibangun di dunia [2]. Resesi ekonomi (inflasi) tahun 1930 melanda seluruh dunia, sehingga TVA adalah salah satu model dalam membangun kembali ekonomi Amerika Serikat.
Isu TVA adalah mengenai: produksi tenaga listrik, navigasi, pengendalian banjir, pencegahan malaria, reboisasi, dan kontrol erosi, sehingga di kemudian hari, Proyek TVA menjadi salah satu model dalam menangani hal yang mirip. Oleh sebab itu, Proyek Waduk Jatiluhur merupakan tiruan yang hampir mirip dengan TVA di AS tersebut.
Waduk Jatiluhur terletak di Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta (±9 km dari pusat Kota Purwakarta). Bendungan itu dinamakan oleh pemerintah Waduk Ir. H. Juanda, dengan panorama danau yang luasnya 8.300 ha. Bendungan ini mulai dibangun sejak tahun 1957 oleh kontraktor asal Perancis, dengan potensi air yang tersedia sebesar 12,9 miliar m3/tahun dan merupakan waduk serbaguna pertama di Indonesia.

 


PENGOLAHAN UBI KAYU MENJADI TEPUNG TAPIOKA

Tepung Tapioka
·         1. Kupas ubi kayu lalu cuci hingga bersih.
·        2. Rendam ubi yang telah dikupas dalam larutan garam dapur 8% (0,8 gram dalam 1 liter air) selama 15 menit atau dalam larutan soda kue (natrium bisulfit) yang biasa dijual ditoko kue. Banyaknya soda kue yang diperlukan  adalah 0,04 gram dalam 1 liter air.
·   3. Parut ubi, campur hasil parutan dengan air bersih sambil diremas-remas, lalu saring.
·        4. Endapkan hasil penyaringan untuk memisahkan pati dengan air.
·    5. Pisahkan endapan dan air dengan jalan membuang air yang terdapat diatas endapan.
·         6. Keringkan endapan atau lalu giling.
·         7. Hasil gilingan kemudian disaring untuk mendapatkan tepung tapioca yang halus.