Sumber: ditjenpdn.depdag.go.id (16/12/2011)
Pada perayaan Hari Pangan Sedunia ke-31, tanggal 16 Oktober lalu,
pemerintah Indonesia mengambil tema “Menjaga Stabilitas Harga dan Akses
Pangan Menuju Ketahanan Pangan Nasional”.
Kali ini, acara diperingati di Kabupaten Gorontalo, karena
keberhasilan kabupaten tersebut dalam meningkatkan produksi jagung.
Terpilihnya jagung sebagai ikon dalam kegiatan ini, diharapkan jagung
menjadi salah satu solusi yang tepat untuk mengurangi konsumsi beras
yang semakin meningkat.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai impor beras Indonesia
pada tahun ini telah mencapai US $ 829 juta atau sekitar Rp 7,04
triliun. Dengan konsumsi beras sebesar 139 kilogram/kapita/tahun dan
jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 237 juta jiwa, berarti konsumsi
beras nasional tahun ini mencapai 34 juta ton. Hasil ini diperoleh
dengan mengalikan konsumsi beras perkapita dan jumlah penduduk Indonesia
saat ini. Bisa dikatakan, Indonesia merupakan konsumen beras terbesar
di dunia.
Jika kebiasaan makan nasi ini dapat diubah, maka akan berdampak besar
pada ketahanan pangan nasional. Beberapa waktu lalu, Wakil Presiden RI
Boediono telah mencanangkan program ”One Day No Rice”. Dengan maksud,
memberikan penyadaran bahwa kita tidak harus menjadikan beras sebagai
makanan pokok. Kita masih bisa mengonsumsi singkong, gandum, ubi, dan
jagung (juga produk olahannya) untuk kehidupan sehari-hari.
Pemanfaatan pangan lokal memang perlu terus ditingkatkan, sebagai
salah satu solusi dalam memperkuat upaya ketahanan pangan. Caranya,
dengan mengubah perspektif masyarakat yang merasa rendah diri karena
mengonsumsi pangan lokal—seperti jagung dan umbiumbian. Padahal, pangan
non beras ini juga memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi. Di sisi
lain, kita juga dihadapkan dengan tantangan harga pangan dunia yang
terus mengalami kenaikan.
Menurut Food Price Watch, harga pangan global tahun 2011 secara
signifikan lebih tinggi dibanding tahun 2010. Sejak krisis pangan
melanda tahun 2007 hingga sekarang, kenaikan harga komoditas jagung
menempati posisi tertinggi hingga 84 persen, disusul gula 62 persen,
gandum 55 persen, dan minyak kacang kedelai 47 persen.
Ada banyak penyebab yang bisa kita inventaris. Di antaranya: Pertama,
karena stok jagung di pasar dunia semakin menipis, sementara permintaan
jagung dunia semakin meningkat. Ketua Dewan Jagung Nasional (DJN) Anton
J Supit mengungkapkan, stok jagung di pasar dunia hanya menyisakan 15
juta ton, padahal biasanya mencapai di atas 70 juta ton. Seperti Cina
yang semula tidak mengimpor jagung, tahun ini mengimpor sebesar 1,7 juta
ton.
Tahun depan, Cina diprediksi bakal mengimpor sebanyak 5 juta ton,
Malaysia 2,8 juta ton, Korea 8,9 juta ton, dan Jepang impor 16 juta ton.
Padahal, dari produksi jagung dunia sebanyak 612,5 juta ton, Amerika
Serikat masih menguasai produksi yang mencapai 256,9 juta ton dan
menyusul Cina sebesar 114 juta ton.
Kedua, karena kenaikan di bursa saham dan harga minyak mentah
dunia. Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti)
Kementerian Perdagangan RI, Syahrul R Sempurnajaya mengatakan, kenaikan
harga jagung dalam negeri sebagaimana dalam analisis Bappebti disebabkan
kenaikan di bursa saham dan harga minyak mentah dunia. “Jadi, harga
minyak mentah ternyata berpengaruh terhadap kenaikan ini,” kata Syahrul.
Ketiga, karena semakin meningkatnya permintaan bahan pangan untuk
kebutuhan bahan mentah pembuatan energi nabati (agrofuel). Penggunaan
bahan bakar nabati—seperti tebu, kedelai, jagung, gandum, tanaman jarak,
kelapa sawit, dan singkong— telah menjadi kebijakan energi sejumlah
negara seperti Amerika Serikat, kawasan Uni Eropa, Jepang, dan Brasil.
Peluang Bagi Indonesia
Selain gandum, singkong, dan sagu, sebenarnya jagung memiliki
potensi yang sangat besar untuk menggantikan beras. Karena, jagung
merupakan sumber karbohidrat sebagaimana beras, dan dapat dijadikan
bahan baku untuk aneka ragam produk olahan. Di beberapa daerah di
Indonesia, misalnya di Madura dan Nusa Tenggara, telah menggunakan
jagung sebagai bahan pangan pokok.
Kini, Amerika Serikat juga menjadikan jagung sebagai alternatif
sumber pangan. Sebenarnya, Indonesia memiliki potensi yang besar
menjadi eksportir jagung global bersama dengan negara-negara produsen
jagung lainnya di dunia dalam lima tahun mendatang. “Kalau target
produksi kita tercapai hingga tahun 2014 mendatang, maka kita sudah
bisa mengisi perjagungan dunia,” kata Maxdeyul Sola, Sekretaris Jenderal
DJN.
Sebagaimana kita tahu, sumber daya lahan di Indonesia cukup besar dan
banyak daerah yang merupakan sentra jagung. Di antaranya, Sumatra
Utara, Lampung, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Gorontalo, dan
Sulawesi Selatan. Setidaknya, ada dua provinsi yang bisa menjadi pilot
proyek pengembangan jagung nasional, yakni Lampung dan Sulawesi Selatan.
Alasannya, di kedua provinsi tersebut infrastruktur sudah relatif
tersedia, banyak ditemukan pabrik pakan yang memiliki gudang
penyimpanan, dryer (pengering), dan lahannya masih memadai. Ada lahan
potensial untuk pengembangan jagung sekitar 500 ribu hektar di Lampung,
dan luas lahan jagung di Sulawesi Selatan saat ini mencapai 230-250 ribu
hektar.
Menurut data BPS, produksi jagung tahun 2010 (ATAP) sebesar 18,33
juta ton, meningkat sebanyak 697,89 ribu ton (3,96 persen) dibandingkan
tahun 2009. Peningkatan produksi tersebut terjadi di Jawa sebesar
489,94 ribu ton, dan di luar Jawa sebesar 207,95 ribu ton. Angka ramalan
I (Aram I) produksi jagung tahun 2011 sebesar 17,93 juta ton. Jumlah
ini turun sekitar 438.960 ton atau 2,39 persen ketimbang produksi tahun
lalu.
Sebenarnya, kebutuhan jagung nasional hanya 16,3 juta ton. Dengan
produksi jagung sebesar 18,33 juta ton di tahun 2010, seharusnya
kebutuhan dalam negeri tercukupi. Menteri Pertanian Suswono mengaku
heran dengan masih adanya sejumlah kalangan yang kesulitan memperoleh
pasokan jagung. Ia memperkirakan, persoalan tersebut mengindikasikan
adanya masalah dalam pendistribusian hasil produksi jagung. Akibatnya,
masih ada impor yang justru akhir-akhir ini meningkat.
Selama semester I tahun 2010 lalu, impor jagung hanya mencapai 600
ribu ton. Tapi di semester I tahun 2011, impor jagung telah mencapai 2
juta ton. Hingga akhir tahun ini, diperkirakan akan mencapai 2,5 juta
ton. Untuk itu, pihaknya meminta BPS untuk mendata semua produksi dan
konsumsi jagung, agar tidak lagi terjadi perdebatan terkait impor.
Langkah lain yang harus disiapkan pemerintah adalah, menetapkan harga
minimum jagung untuk setiap wilayah. Dengan demikian, petani memiliki
kepastian harga. Selama ini, karena daya tawar petani rendah, harga
jual jagung di tingkat petani relatif murah. Tentu petani tidak bisa
menahan jagung terlalu lama, karena tidak mempunyai alat pengering.
Bappebti menyebutkan, harga jagung mengalami kenaikan di sejumlah
pasar dalam negeri. Salah satunya di kabupaten OKU Timur, Sumatra
Selatan. Harga jual jagung dari tingkat petani saat ini tercatat
berkisar antara Rp 3.025 hingga Rp 3.050 per kilogram. Sebelumnya,
harga jagung hanya Rp 2.700 hingga Rp 2.750 per kilogram. Sementara
itu, harga jagung pipilan kering pada tingkat pengecer di kota Kendari
Provinsi Sulawesi Tenggara, masih stabil pada level harga Rp 4.000 per
kilogram.
Adapun harga jagung pipilan kering di Bengkulu juga tergolong
tinggi, berkisar Rp 5.000 per kilogram. Berbanding terbalik dengan
wilayah di Kabupaten Jombang, harga jagung tahun ini lebih rendah
daripada harga jagung saat panen tahun sebelumnya. Harga jagung pipilan
basah Rp 170.000 per kuintal, lebih rendah dibandingkan tahun lalu yang
mencapai Rp 200.000 per kuintal. Sedangkan harga jagung glondongan Rp
110.000 per kuintal, lebih rendah dibandingkan tahun lalu yang mencapai
Rp 120.000 hingga Rp 125.000 per kuintal.
Maxdeyul Sola, Sekretaris Jenderal DJN, masih merasa optimis bahwa
target produksi 24 juta ton per tahun akan tercapai pada tahun 2012.
Indonesia bisa menjadi negara eksportir jagung. Namun untuk tahun ini,
target sebesar 22 juta ton memang belum bisa tercapai, lantaran jumlah
produksi jagung masih terpengaruh anomali cuaca tahun lalu.
Untuk lebih meningkatkan produksi jagung, Menteri Pertanian RI
Suswono telah menjanjikan kredit ke petani senilai Rp 20 triliun.
Anggaran itu diperuntukkan bagi petani yang ingin mengembangkan usaha
pertaniannya. Jika para petani makmur dan bisa meningkatkan produksinya,
maka ditargetkan pada tahun 2014, Indonesia sudah bisa swasembada
jagung. (spr/lmn)
Saya Tunggu Komentar Brilian Anda